Tuesday, 9 January 2018


1.1       Biomaterial
Biomaterial Secara umum biomaterial diartikan sebagai material yang ditanam di dalam tubuh manusia untuk mengganti jaringan organ tubuh yang terserang penyakit, rusak atau cacat (Widyastuti, 2009).
Sedangkan menurut Larsson et al (2007), biomaterial adalah suatu material dengan sifat baru yang digunakan sebagai perangkat medis dan mampu berinteraksi dengan sistem biologis. Biomaterial merupakan bidang dengan berbagai disiplin ilmu yang membutuhkan pengetahuan dan pemahaman mendasar dari sifat-sifat material secara umum dan interaksi material dengan lingkungan biologis. Biomaterial alami yaitu; allograft (tulang manusia), xenograft (tulang sapi), dan autograft (tulang dari pasien yang sama) (Dewi, 2009). Menurut Ylien (2006), biomaterial diklasfikasikan ke dalam 4 kelompok kimia antara lain polimer, komposit, logam, dan keramik. Sementara menurut Lobo and Arinzeh (2010), biomaterial diklasifikasikan ke dalam 3 kelompok dalam penggunaanya antara lain biokompabiliti, bionert, dan bioaktif. Biokompabiliti merupakan material yang dapat bertahan tanpa memberikan efek atau kerusakan pada jaringan tubuh (stainless steel), Bioinert merupakan 7 material yang mempunyai lapisan oksida pada permukaan (alumunium zirkonium, titanium, dan material karbon), dan Bioaktif yaitu ketika terdapat ikatan langsung secara biokimia dan biologi. Biomaterial dengan tulang induk melalui pembentuk suatu lapisan apatit pada permukaan biomaterial (keramik kalsium fosfat dan keramik gelas).
1.2       BioKeramik
            Biokeramik Biokeramik adalah keramik yang secara khusus dimanfaatkan untuk memperbaiki dan merekoinstruksi bagian tubuh yang terkena penyakit atau cacat. Menurut Herliansyah dkk (2010), biokeramik merupakan salah satu jenis bahan keramik yang baik sebagai produk yang digunakan dalam kedokteran dan industri, terutama sebagai implant ataupun organ pengganti. Biokeramik memiliki sifat biokompabilitas, stabilitas kimia, ketahanan aus yang tinggi dan memiliki komposisi yang sama dengan bentuk mineral dari jaringan keras dalam tubuh (tulang dan gigi). Berdasarkan adaptasinya biokeramik dibedakan menjadi empat, yaitu; Biokeramik bionert, biokeramik terserap ulang, biokeramik bioaktif, dan biokeramik berpori. Biokeramik bionert biokeramik yang tebal daerah permukaan yang rendah dan antar permukaan biokeramik dengan tebal daerah permukaan tidak terikat secara kimia maupun biologis sehingga sistem pelekatan biasanya hanya secara mekanis. Pada lapisan permukaan akan terbentuk suatu kapsul berserat yang tidak terikat secara baik pada jaringan keras maupun jaringan lunak (alumina dan zirkonia). Biokeramik terserap ulang dirancang untuk resorbsi secara berlahan dalam jangka waktu tertentu secara 8 bersamaan akan digantikan oleh jaringan alamiah baru dengan lapisan antara permukaan yang sangat tipis menstimulas tulang untuk tumbuh pada bahan keramik dan melalui pori-porinya melanjutkan transformasi secara total dari bahan-bahan yang masuk kedalam tulang yang tinggal (trikalsium fosfat). Biokeramik bioaktif memiliki respon biologis khas pada antar permukaan sehingga terbentuk ikatan antar jaringan dan bahan tersebut. Kehasanya adalah dasar materi yang meyerupai komponen inorganik bagian tulang disertai kempuan melarut yang dapat memberian ikatan secara langsung terhadap implant (hidroksiapatit, bioaktif, dan gelas keramik), dan Biokeramik berpori untuk pertumbuhan dalam jaringan yang dikenal biokeramik inert mikropori pada daerah permukaan memiliki pori-pori dalam ukuran mikro dimana terjadi pertumbuhan dan jaringannya ke pori permukaan atau keseluruhan implanasinya (logam berlapis HA). Biokeramik dapat berupa kristal tunggal seperti saffir, polikristal (alumina atau HA, gelas keramik, komposit seperti baja- stailees-gelas diperkuat serat atau politilen HA).
1.3       Hidroksiapatit
            Hidroksiapatit Hidroksiapatit adalah kalsium fosfat yang mengandung hidroksida, anggota dari kelompok mineral dalam tulang (Berlianty, 2011). Hidroksiapatit memiliki kandungan kalsium dan fosfat yang terdapat pada tulang dan gigi, karena memiliki sifat biokompabilitas yang baik pada jaringan manusia serta komposisi kimianya hampir sama dengan tulang (Mondal et al, 2012).

            Hidroksiapatit juga memiliki rumus kimia Ca10(PO4)6(OH)2 dan mempunyai struktur heksagonal dengan parameter kisi a= 9.443Ã… dan c= 6.875Ã… serta nisbah Ca/P sekitar 1.67. Kristal apatit mengandung gugus karbon dalam bentuk karbon (Muntamah, 2011). Hidroksiapatit memiliki dua bagian struktur yaitu heksagonal dan monoklinik. Struktur heksagonal terdiri dari susunan gas PO4 tetrahedral yang diikat oleh ion-ion Ca, sedangkan struktur monoklinik dapat dijumpai apabila HA yang terbentuk benar-benar stoikometri. Rasio Ca/P dari HA adalah 1,67 dan densitasnya 3,19 g/ml (Ferraz et al, 2004). Menurut Darwis dan Warastuti (2008) dengan metode basah sekitar 34-37% (Ca) dan 16-20% (P) akan diperoleh rasio Ca/P berkisar antara 1,68 – 1,73 dengan rata-rata 1,69 dan kandungan Ca berkisar 35% dan Fosfat 20%. Dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Struktur Hidroksiapatit (Rivera-Monozq1, 2011). Struktur monoklinik

terjadi karena susunan OH- membentuk urutan OH-OH-OHOHyang membuat parameter kisi b menjadi 2 kali a (Gambar 2.b). Akan tetapi, struktur heksagonal juga dapat diperoleh pada kondisi stoikiometrik jika susunan OH- tidak teratur (Gambar 2.a) (Suryadi, 2011).
Gambar 2. (a) Struktur HA Heksagonal (b) Struktur HA Monoklinik (Corno et al, 2006).
Hidroksiapatit memiliki struktur heksagonal dan merupakan senyawa yang paling stabil diantara berbagai kalsium. Hidroksiapatit sebagai salah satu biokeramik yang dibuat dari bahan alami sebagai penganti tulang (Balgies dkk, 2011). Hidroksiapatit cukup aman digunakan sebagai bahan implant karena sifatnya yang non toxic, cepat membangun ikatan dengan tulang (bioaktif), memiliki biokompatibilitas dengan jaringan sekitar, tidak korosi, dan dapat mendorong pertumbuhan tulang baru dalam strukturnya yang berpori. Namun HA mempunyai kelemahan yaitu bersifat rapuh, tidak bersifat osteoikonduktif, sifat mekanik rendah dan memiliki ketidakstabilan struktur pada saat bercampur dengan cairan tubuh.

1.4       Sifat Hidroksiapatit
            Hidroksiapatit memiliki sifat biokompatibel dan bioaktif. Biokompatibel adalah kemampuan material untuk menyesuaikan dengan kecocokan tubuh penerima, sedangkan bioaktif adalah kemampuan material bereaksi dengan jaringan dan menghasilkan ikatan kimia yang sangat baik (Purnama dkk, 2006). Hidroksiapatit juga memiliki sifat biokompabilitas ke jaringan tulang sangat baik karena kandungan komposisi kimia yang serupa dengan mineral tulang dan gigi (Purmawargapratala, 2011) hidroksiapatit juga bersifat rapuh (Warsatuti dan Abbas, 2011). Menurut Suryadi (2011) sifat hidroksiapatit adalah biokompatibel, bioaktif dan bioserorable. Biokompatibel material yang banyak diaplikasikan pada proses penyembuhan jaringan keras (tulang) yang mengalami kerusakan, juga sebagai pelapis implant yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia untuk meningkatkan sifat biokompabilitas. Bioaktif mampu berintegrasi dengan jaringan hidup melalui proses-proses aktif dalam penolakan kembali tulang yang sehat. Bioserorable material akan melarut sepanjang waktu (tanpa memperhatikan mekanisme yang menyebabkan pemidahan material) dan menginzinkan jaringan yang baru terbentuk dan tumbuh pada sembarang permukaan material. Fungsi bioserorable berperan penting dalam proses dinamis pembentuk dan reabsorbsi yang terjadi didalam jaringan tulang. Material bioserorable digunakan sebagai scaffolds atau pengisi (filler) yang meyebabkan mereka berinfiltrasi dan berganti ke dalam jaringan, sedangkan laju solusi dari hidroksiapatit yang memiliki sifat bioaktif dapat bergantung pada beragam faktor, seperti derajat kristalinitas, kuran kristalit, kondisi proses (temperatur, tekanan, dan tekanan parsial air), dan porositas. Hidroksiapatit yang larut dalam larutan asam dan sedikit pada larutan destilasi. Kelarutan pada destilasi meningkat seiring dengan penambahan elektrolit. Kelarutan hidroksiapatit juga akan berubah jika memiliki asam amino, protein, enzim dan senyawa organik lainnya. Sifat kelarutan yang dimiliki hidroksiapatit berhubungan dengan sifat biokompatibel. Laju kelarutan tergantung pada perbedaan bentuk, porositas, ukuran kristal, kristalinitas, dan ukuran kristalit. Hidroksiapatit bereaksi aktif dengan protein, lemak, dan senyawa organik ataupun non-organik lainnya.

1.5       Metode Pembuatan Hidroksiapatit
            Menurut Thamaraiselvi et al (2006) sintesis hidroksiapatit dapat dilakukan enam metode yaitu metode basah, metode kering, metode hidrotermal, metode alkoksida, metode fluks, dan metode sol-gel.. Metode basah menggunakan reaksi cairan dari larutan menjadi padatan, metode ini digunakan karena sederhana dan menghasilkan serbuk hidroksiapatit dengan sedikit kristal atau amorf. Metode kering, menggunakan reaksi padat dari padatan menjadi padatan dan menghasilkan serbuk hidroksiapatit dengan butiran halus dan derajat kristalinitasnya tinggi. Metode hidrotermal, menggunakan reaksi hidrotermal dari larutan menjadi padatan dan menghasilkan hidroksiapatit dengan kristal tunggal. Metode alkoksida, menggunakan reaksi hidrolisa dari larutan menjadi padatan. Metode ini digunakan untuk membuat lapisan tipis (thin flm) dan hidroksiapatit yang dihasilkan mempunyai derajat kristalinitas tinggi. Metode fluks, menggunakan reaksi peleburan garam dari pelelehan menjadi padatan. Metode ini menghasilkan hidroksiapatit kristal tunggal yang mengandung unsur lain seperti; boron apatit, fluorapatit, dan kloroapatit, dan Metode sol-gel, menghasilkan serbuk hidroksiapatit dengan ukuran butir yang relatif homogen dan derajat kristalinitas. Metode yang digunakan dalam pembuatan hidroksiapatit mempengaruhi karakter-karater kristal hidroksiapatit yang diperoleh.

1.6       Aplikasi Hidroksiapatit
Hidroksiapatit (HA) dapat dimodifikasi menjadi berbagai jenis sediaan radiofarmaka sebagai pembawa unsur radionuklida untuk aplikasi terapi rheumatoid arthritis karena mempunyai kemiripan dengan fasa mineral pada matrik tulang (Setiawan dan Basit, 2011). Hidroksiapatit digunakan sebagai bahan pelapis logam yang diimplatasikan kedalam tubuh (Arifianto dkk, 2006). Penggunaan hidroksiapatit dalam aplikasi biomedik telah banyak digunakan antara lain sebagai pembawa obat, scaffold, tulang pengisi dan tulang pengganti. Hidroksiapatit dapat dimanfaatkan sebagai biomedik karena sifat yang dimiliki hidroksiapatit tidak beracun, biokompabilitas, non inflamasi, dan struktur mesori dari hidroksiapatit (Oner et al, 2011). Hidroksiapatit sintetik dapat diperoleh tidak hanya melalui reaski senyawasenyawa sintetik (Dahlan, 2013), dan dapat juga diperoleh dengan mereaksikan senyawa sintetik tersebut dengan senyawa alami (Amrina, 2008). Keunggulan dari hidroksiapatit sintetik adalah bahan yang  mempunyai karakter komposisi fasa dan struktur mikro yang hampir sama dengan tulang manusia (Purnama dkk, 2006). Hidroksiapatit sangat stabil dalam cairan tubuh serta diudara kering atau lembab hingga 1200°C

1.7       Tulang Sapi
            Tulang Sapi Tulang merupakan bagian tubuh atau organ dari suatu individu yang mulai tumbuh dan berkembang sejak masa embrional. Sistem pertulangan merupakan salah satu hasil perkembangan dari sel-sel mesoderm. Pola bangunan tubuh suatu individu ditentukan oleh kerangka yang disusun dari puluhan atau ratusan tulang. Tulang-tulang tersebut membentuk suatu susunan atau kelompok tulang yang disebut dengan kerangka. Tulang-tulang kerangka disebut juga skeleton dalam melaksanakan fungsinya dilengkapi dengan tulang rawan (cartilago) dan ligment (pita pengikat). Kerangka pada ternak termasuk dalam endoskeleton (Anonim A, 2013). Menurut Septimus (1961) tulang merupakan jaringan yang dinamis yang secara terus-menerus dapat diperbaharui dan direkonstruksi. Tulang mempuyai pembuluh darah, pembuluh limfe, dan syaraf. Tulang panjang seperti tulang paha (femur) memiliki bentuk silinder dengan bagian ujung yang membesar. Bagian yang berbentuk silinder disebut diafisis, sedangkan bagian ujung yang membesar terdiri dari tulang berongga dan disebut epifisis. Tulang kering terdiri dari bahan organik dan bahan anorganik dalam perbandingan 2:1. Zat organik oleh panas tidak menyebabkan perubahan stuktur tulang secara keseluruhan, tetapi akan mengurangi berat tulang. Tulang mempunyai dua fungsi utama yaitu sebagai penopang tubuh dan pendukung gerakan. Keduanya merupakan tempat cadangan mineral dan berkaitan dengan metabolisme tubuh, yang disimpan ataupun dikeluarkan setiap kali diperlukan oleh tubuh. Pada pembentukkan tulang, sel-sel tulang keras membentuk senyawa kalsium fosfat dan senyawa kalsium karbonat. Tulang merupakan jaringan hidup, sekitar 15% beratnya terdiri dari sel. Tulang cortical disusun 22% matrik organik, 90-96% kolagen, 69% mineral dan 9% air seperti pada Gambar 3. Mineral tulang biasanya sebagai senyawa kalsium hidroksiapatit dengan stokiometri sempurna. Bentuk utama mineralnya mengandung kalsium kristal apatit dan fosfat, menirukan struktur kristal hidroksiapatit Ca10(PO4)6(OH)2.


Gambar 3. Distribusi komponen penyusun tulang cortical (Liu, 1996).
 Tulang secara alami umumnya terdiri dari 70% mineral anorganik, 20% bahan organik dan 10% air (Toppe et al, 2007). Rangka tubuh sapi terdiri dari 191 hingga 193 ruas tulang (Suryanto, 2009). Tulang mempunyai mineral yang mengandung 35% senyawa organik dan 65% senyawa anorganik (Fakhrijadi, 2013). Tulang sapi memiliki karakteristik mendekati tulang manusia. Hal ini didukung oleh penelitian Aerssens et al (1998) yang membandingkan komposisi dan kepadatan tulang pada tujuh hewan vertebrata yang biasa digunakan dalam penelitian tulang (manusia, anjing, sapi, babi, domba, ayam dan tikus), diketahui bahwa sapi memiliki struktur komposisi yang paling mendekati tulang manusia. Indriyani (2011) juga melakukan penelitian mengenai karakteristik mekanik dan fisik tulang sapi berdasarkan berat hidup. Tulang yang digunakan adalah tulang belakang (metatarsus) sapi dari jenis sapi induk lokal pesisir yang diinseminasi dengan sapi simmental dengan rentang berat hidup 200 kg sampai 500 kg. Dari penelitian yang dilakukan disimpulkan bahwa berat hidup sapi dengan berat 500 kg memiliki kekuatan tarik rata-rata adalah 177,26 MPa. Pada berat yang sama regangan tarik rata-rata adalah 0,11 MPa, modulus elastisitas rata-rata adalah 1,61 GPa, dan ketangguhan rata-rata adalah 9,89 Mj/m3 . Kandungan tulang sapi terdiri dari 93% HA dan 7% β-TCP dengan perlakuan panas memakai suhu 400oC– 1200oC (Ooi et al, 2007). Hidroksiapatit berasal dari tulang sapi telah banyak digunakan untuk mencangkok, memperbaiki, mengisi, pergantian tulang dan pemulihan jaringan gigi karena biokompabilitas yang sangat baik dengan jaringan keras, bioaktivitas merenkonstruksi ulang jaringan tulang yang telah rusak dan di dalam jaringan lunak (Kusrini and Sontang, 2012). Unsur pokok anorganik tulang memiliki kesamaan dengan yang ada pada komposisi hidroksiapatit sintetik. Kristal hidroksiapatit yang berada pada tulang memiliki bentuk yang menyerupai jarum atau batang dengan panjang 40-60 nm, lebar 10-20 nm, dan ketebalan 1-3 nm (Mollazadeh et al, 2007). Materil pengganti tulang yang umum digunakan adalah autograft (pergantian sutu bagian tubuh dengan bagian tubuh dengan bagian tubuh lainya dalam satu individu), allograft (pergantian tulang manusia dengan tulang yang berasal dari manusia lain), xenograft (pergantian tulang manusia dengan tulang yang berasal dari hewan). Namun, pengganti tulang ini biasanya tersedia dalam jumlah terbatas (Sopyan et al, 2007).









 Referensi :
1.         http://digilib.unila.ac.id/11962/119/BAB%20II.pdf

2.         Suryadi, Sistesis dan Karakterisasi Biomaterial Hidroksiapatit dengan Proses Pengendapan Kimia Basah , Universitas Indonesia ,2011

Monday, 12 June 2017

A.        Pendahuluian

Dalam suatu perusahaan baik kecil maupun besar memerlukan suatu bagian perawatan, baik itu industri manufaktur maupun industri jasa. Produk yang dibuat industri harus mempunyai hal-hal berikut:
      a.       Kualitas baik
      b.      Harga pantas
      c.       Di produksi dan diserahkan ke konsumen dalam waktu yang cepat.

Isitilah Pemeliharaan
  1. Pemeliharaan (maintenance) adalah suatu cara yang digunakan untuk memperpanjang usia dari suatu peralatan sehingga usia pakainya dapat mencapai maksimal.
  2. Pemeliharaan darurat (emergency maintenance) adalah cara yang digunakan untuk mengatasi suatu masalah yang terjadi pada peralatan yang terjadi secara tiba-tiba tanpa terduga.
  3. Pemeliharaan terencana (planned maintenance) adalah cara yang digunakan untuk melakukan perawatan dimana jadwl dari perawatan sesuai dengan apa yang dikehendaki.
  4. Rusak (breakdown) adalah suatu keadaan dimana peralatan tidak dapat beriperasi seuai dengan keinginan sipengguna.
  5. Pemeliharaan korektif (corrective maintenance) adalah perawatan yang dilakukan dengan cara mengecek keadaan dari suatu mesin.
  6. Pemeliharaan pencegahaan (preventive maintenance) adalah perawatan yang dilakukan sebelum terjadi kerusakan.
  7. Pemeliharaan jalan (running maintenance) adalah perawatan dengan jalan melihat keadaan mesin sedang digunakan dan bila terjadi kejangalan maka langsung dilakukan perbaikan tak harus mengganggu proses produksi.
  8. Pemeliharaan berhenti (Shutdown maintenance) adalah perawatan atau perbaikan dimana peralatan dikondisikan tidak dapat dioperasikan.
  9. Daftar inventaris pabrik (Plant inventory) adalah data keadaan peralatan yang ada di pabrik.
  10. Program pemeliharaan (maintenance program) adalah program yang digunakan untuk melakukan perawatan dan perbaikan dari peralatan.
  11. Jadwal pemeliharaan (maintenance schedule) adalah waktu yang akan digunakan untuk proses perawatan dan perbaikan agar proses produksi tidak terganggu.
  12. Kartu riwayat (History card) adalah kartu yang digunakan agar dapat diketahui keadaan dari suatu peralatan.
  13. Laporan kerja (Job Report) adalah kartu yang digunakan untuk mengetahui kerja yang dilakukan terhadap peralatan.
  14. Spesifikasi kerja (Job Spesification) adalah langkah-langkah kerja yang dilakukan terhadap peralatan.
  15. Perbaikan menyeluruh (overhaul) adalah perbaikan yang dilakukan terhadap peralatan dengan memperhatikan usia dari bagian mesin yang saatnya harus diganti tanpa memperhatikan itu rusak atau tidak.
  16. Waktu nganggur (downtime) adalah waktu mesin tidak beroperasi.
  17. Perencanaan Pemeliharaan (Maintenance planning) adalah pemeliharaan yang akan dilakukan terhadap peralatan
B.        Tujuan pemeliharaan yang dapat didefinisikan dengan jelas sebagai berikut:
  1. Untuk memperpanjang usia kegunaan asset (yaitu setiap bagian dari suatu tempat kerja, bangunan dan isinya.
  2. Untuk menjamin ketersediaan optimum peralatan yang dipasang untuk produksi atau jasa dan mendapatkan laba investasi (return of investment) maksimum mungkin.
  3. Untuk menjamin kesiapan operasional dari keseluruhan peralatan pabrik.
  4. Untuk menjamin keselamatan orang yang menggunakan peralatan itu. (Corder, A. 1988)
C.        Organisasi
Di dalam pengembangan suatu organisasi untuk diaplikasikan pada teknik manajemen perawatan mesin, maka sebaiknya dicarikan hal yang dapat dijadikan suatu acuan, karena takkan ada suatu oragnisasi yang “terbaik” yang dapat digunakan dalam suatu persoalan di industri.
Beberapa konsep dari organisasi yang baik mesti didasari pemikiran:
  1. Adanya gambaran kerja yang jelas
  2. Konsistensi kekuasaan untuk itu hindari banyaknya pembantu dengan tugas yang tidak jelas.
  3. Kejelasan personal yang terlibat didalamnya
D.        Faktor-Faktor yang mempengaruhi pembentukan departemen perawatan adalah:

1.         Jenis Pekerjaan
            Jenis pekerjaan perawatan akan menentukan karakteristik pengerjaan dan jenis pengawasan. Jenis-jenis pekerjaan perawatan yang biasanya dilakukan adalah : sipil, permesinan, pemipaan, listrik dan sebagainya.

2.         Kesinambungan Pekerjaan
  1. Jenis pengaturan pekerjaan yang dilakukan di suatu perusahaan/industri akan mempengaruhi jumlah tenaga perawatan dan susunan organisasi perusahaan.
  2. Sebagai contoh, untuk pabrik yang melakukan aktifitas pekerjaan lima hari kerja seminggu dengan satu shift, maka program perawatan preventif dapat dilakukan tanpa menganggu kegiatan produksi dimana pekerjaan perawatan bisa dilakukan diluar jam produksi.
3.         Situasi Geografis
Lokasi pabrik yang terpusat akan mempunyai jenis program perawatan yang berbeda jika dibandingkan dengan lokasi pabrik yang terpisah-pisah.Sebuah pabrik besar dan bangunannya tersebar akan lebih baik menerapkan program perawatan lokal masing-masing (desentralisasi), sedangkan pabrik kecil atau lokasi bangunannya berdekatan akan lebih baik menerapkan sistem perawatan terpusat (sentralisasi)

4.         Ukuran Pabrik
            Pabrik yang besar akan membutuhkan tenaga perawatan yang besar dibandingkan dengan                   pabrik yang kecil, demikian pula halnya bagi tenaga pengawas.

5.         Ruang lingkup bidang perawatan pabrik
            Ruang lingkup pekerjaan perawatan ditentukan menurut kebijaksanaan manajemen. Departemen perawatan yang dituntut melaksanakan fungsi primer dan sekunder akan membutuhkan supervisi tambahan, sedangkan departemen perawatan yang fungsinya tidak terlalu luas akan membutuhkan organisasi yang lebih sederhana.

6.         Keterandalan tenaga kerja yang terlatih
            Dalam membuat program pelatihan, dipertimbangkan terhadap tuntutan keahlian dan keandalan pada masing-masing lokasi yang belum tentu sama.

Referensi :
  1. Asyari Daryus -- Manajemen Pemeliharaan Mesin, Universitas Darma Persada – Jakarta
  2. B.S. Dhillon, Ph.D. (2002). “Engineering Maintenance, A Modern Approach”. CRC Press LLC, 2000 N.W. Corporate Blvd., Boca Raton, Florida 33431
  3. Palmer, Richard.D. (2006). “Maintenance Planning and Scheduling Handbook, Second Edition”. Manufactured in the United States of America.
  4. http://perawatan-fatahul2009.blogspot.co.id/

.








Monday, 16 January 2017


KESIMPULAN



            Printer merupakan sebuah perangkat keras yang dihubungkan pada komputer yang berfungsi untuk menghasilkan cetakan yang baik berupa tulisan ataupun gambar dari komputer pada media kertas atau yang sejenisnya.Printer terbagi atas beberapa bagian yaitu picker sebagai alat mengambil kertas dari tray.tray ialah tempat menaruh kertas.Tinta atau toner adalah alat pencetak sesungguhnya,karena ada sesuatu yang disebut tinta atau toner yang digunakan untuk menulis /mencetak pada kertas . sedangkan mesin ketik adalah mesin yang dimana sebuah penulisan yang langsung atau dapat secara langsung dicetak dengan hasil tulisan tersebut namun dari penulisan mesin ketik tersebut harus teliti dan baik secara benar dalam penulisannya. 

Saturday, 17 December 2016

Indonesia merupakan salah satu negara tropis yang terletak di garis khatulistiwa, sehingga panas sepanjang tahun dan hanya terdapat 2 musim saja yaitu musim kemarau (panas) dan musim hujan (dingin). Pada saat musim kemarau, panas terik matahari sangat lebih terasa dan lebih cepat mengalami kehausan. Saat musim panas, suhu udara di rumah pun mengalami kenaikan sehingga menimbulkan panas. Oleh karena itu, orang-orang perlu sebuah alat bantu agar tetap menjaga suhu udara di rumah terasa lebih sejuk/dingin dan nyaman, diantaranya yaitu AC, kipas angin,dan lainnya.



Banyak orang memiliki pandangan yang berbeda tentang bagaimana menjaga suhu udara tetap sejuk dan mengalahkan panas ketika berada dalam rumah. Ada 2 cara utama agar udara menjadi lebih sejuk, yaitu menggunakan kipas angin atau air conditioning (AC)/penyejuk ruangan. Mari kita lihat perbandingan daripada kedua alat tersebut bila ditinjau dari segi fungsi mendinginkan ruangan, kemanfaatan, efisien.


I. Air Conditioning (AC) / Penyejuk Ruangan


Cara kerja Air Conditioning sederhana, menggunakan pendingin untuk menurunkan suhu dalam ruangan (rumah) dengan proses yang disebut ‘Phase Conversion (Konversi Fase)’. Ini berarti bahwa ketika cairan berubah/konversi menjadi gas  maka itu akan menyerap panas. Panas ini akan mengalir diatas hawa dingin, tekanan rendah kumparan evaporator. Hal tersebut akan memberikan udara dingin yang sejuk untuk dapat didistribusikan di sekitar ruangan oleh kipas AC dan setiap udara panas yang tidak diinginkan terhalau eksternal dari unit pendingin udara di luar.

II.  Kipas Angin

Tidak seperti AC, kipas angin tidak menurunkan suhu di dalam kamar. Peran kipas angin sangat sederhana, yaitu untuk hanya menerbangkan panas yang mengelilingi tubuh Anda. Seperti yang tampak pada gambar, kipas angin meniup panas yang mengelilingi tubuh Anda, sehingga proses pendinginan alami tubuh Anda dapat bekerja lebih efisien dan alami.


A. Keuntungan dan Kekurangan dari Kipas Angin dan AC


Air Conditioning (AC)
Keuntungan :
Kekurangan :
1. Mempertahankan suhu ruang pada suhu tertentu
1. Berbiaya dan mahal
2. Sejuk dan nyaman selama musim panas
2. Mengeringkan udara, menghilangkan kelembaban dari kulit dapat menyebabkan gatal dan iritasi
3. Menghilangkan kelembaban dari udara
3. Mencegah orang dari aklimatisasi (penyesuaian) terhadap panas
4. Mendinginkan seluruh ruangan dan tidak hanya efek aliran angin yang kipas angin berikan
4. Tidak efisien di ruang terbuka


Kipas Angin
Keuntungan :
Kekurangan :
1. Lebih murah untuk menjalankan, hanya menggunakan % kecil listrik dibandingkan dengan AC
1. Tidak menurunkan suhu
2. Tidak kering udara
2. Tidak mengalir ke seluruh ruangan, hanya beberapa persen dari ruangan.
3. Lebih efisien memindahkan aliran udara dan lebih efisien dalam ruang terbuka
3. Hanya meniup panas menjauh dari tubuh
4. Orang masih bisa membiasakan diri untuk aklimatisasi panas
4. Memerlukan beberapa kipas angin


III. PERHITUNGAN BIAYA
     A.  Perhitungan  AC



Sebelum menghitung biaya ac kita harus tau terlebih dahulu sistem penghitungan yang di terapkan oleh PLN, kurang lebih seperti ini.

Cara menghitung biaya listrik pln.
Daya listrik(Kwh) x lama penggunaan(jam) x biaya (Rp)
* Daya listrik
Contoh lampu 100 watt = 100/1000 = 0.1 Kwh
* Lama penggunaan
Contoh agan menyalakan lampu jam 6 sore dan di matikan jam 5 pagi
maka penggunaannya yaitu 11 jam
* Biaya
Tarif yang di terapkan pln untuk konsumsi listrik.

Melalui situs resminya, PLN merilis daftar tarif listrik untuk pelanggan rumah tangga yang berlaku mulai 1 Oktober 2013:

1. Pelanggan rumah tangga berdaya 450 VA: tarif listrik tidak naik, yakni Rp415 per kilowatt-hour (kWh).

2. Pelanggan rumah tangga berdaya 900 VA: tarif listrik tidak naik, yakni Rp605 per kWh.

3. Pelanggan rumah tangga 1.300 VA: tarif listrik naik dari Rp928 per kWh menjadi Rp979 per kWh.

4. Pelanggan rumah tangga 2.200 VA: tarif listrik naik dari Rp947 per kWh menjadi Rp1.004 per kWh.

5. Pelanggan rumah tangga 3.500 VA-5.500 VA: tarif listrik naik dari Rp1.075 per kWh menjadi Rp1.145 per kWh.

6. Pelanggan listrik 6.600 VA ke atas: tarif listrik naik dari Rp1.347 per kWh menjadi Rp1.352 per kWh.

Setelah kita tau cara menghitung biaya listrik pln, mari kita menuju untuk menghitung biaya konsumsi AC.
Kita tau kalau AC menggunakan patokan kapasitas PK = Paar de Kraft.
Biasanya AC tersedia dari kapasitas 1/2PK, 3/4PK, 1PK, 1.5PK, 2PK,2.5PK ,3PK dan 5PK
Untuk 1PK memiliki standar konsumsi listrik sebesar 750 watt.

Mari kita mulai hitung.
Seumpama rumah kita memiliki daya listrik 1300VA, dan kamar kita berukuran 3x3m(menggunakan AC kapasitas 1/2PK). Kita menggunakan AC tersebut 5 jam dalam 1 hari.
Berarti :
1/2PK(750/2watt) / 1000 X 1 jam X Rp. 979
= 375 / 1000 X 1 x 979
= 0.375 X 1 X 979
= 0.375 X 979
= 367.125
= Rp 367 / jam (dibulatkan)
biaya pemakaian dalam 1 jam adalah Rp. 367

5 jam X Rp 367 X 30
= 5 X 367 X 30
= 1.835 X 30
= 55.050
biaya pemakaian dalam satu bulan Rp. 55.050

B.  Perhitungan Kipas Angin

Kipas angin berdaya 45 Watt yang digunakan rata-rata selama 8 jam sehari. Maka, biaya pemakaian dayanya menjadi 

pemakaian per hari :
= ((45 Watt ÷ 1000) x 8 jam) x Rp. 864,2,-
= (0,045 kwh x 8 jam) x Rp. 864,2,-
= 0,36 kwh x Rp. 864,2,-
= Rp. 311,11,-

pemakaian sebulan :
= Rp. 311,11,- x 30
= Rp. 9.333,3,-

Sumber :

Sunday, 4 December 2016



Sudah bukan rahasia lagi bahwa sekarang ini bahwa lampu LED jauh lebih baik dari lampu Neon. Tapi apakah itu benar? dan bagaimana sebenarnya ukuran penggunaan lampu LED yang baik? Hal ini mungkin jadi pertanyaan anda dan termasuk saya yang sebenarnya ingin beralih menggunakan lampu LED namun belum begitu paham tentang lampu ini. Nah disini saya mengumpulkan informasi tentang lampu LED yang mungkin bisa membantu mengerti cara kerjanya.

Dahulu awalnya kita menggunakan lampu pijar atau yang biasa disebut dengan lampu Incandescent. Secara fakta ternyata lampu pijar ini memakan banyak energi listrik dan sangat boros. Oleh sebab itu beberapa produsen mulai mengurangi produksi lampu tersebut dan berusaha menemukan produk yang lebih hemat.

Kemudian munculah Pilihan para lampu Flourescent (lampu neon). Memang secara efektifitas, lampu neon menghasilkan intensitas cahaya yang lebih terang dengan listrik kecil. Penggunaan lampu jenis neon ini berjaya cukup lama, sampai pada akhir-akhir ini produsen mulai melirik produk baru yang dianggap lebih ramah lingkungan dari pada lampu neon tersebut. Produk itu adalah lampu LED. Berbeda dengan neon yang tabungnya diisi gas, LED jauh lebih ramah lingkungan dan memiliki ketahanan lebih lama.

Sekarang ini lampu LED mulai banyak dijual di supermarket-supermarket. Yang menarik dari produk ini adalah para produsen lampu memberi pernyataan bahwa lampu ini mampu bertahan hingga 15 tahun lebih, bahkan salah satu produsen bernama Osr*m berkata mampu bertahan sampai 25 tahun. Wow lama yah. Jika kamu punya anak, maka lampu tersebut akan mati kalau anak sudah akan tamat sekolah. he-he.
Perbandingan watt lampu LED dan lampu NEON :
       
       VS



             Lampu LED                                                              Lampu NEON
Dari hasil baca kaskus, ada informasi menarik perihal perbandingan antara lampu neon dan lampu LED. Sebagai perbandingan bahwa LED dengan watt kecil 9.6 watt dapat menghasilkan cahaya setara lampu Neon 13.6 watt.
Untuk lebih jelas mengenai perbandingan nilai watt ini mari simak info:


1.   Lampu LED, Color Temperature (kelvin, K) = 6500k (cool daylight / Putih)
      Watt (w) : Ligth Output/lumen (lm)
       4w      = 350lm
       7w      = 600lm
       9w      = 806lm
       12.5w = 1055lm
       14w    = 1400lm

2.  Lampu Fluorescent (NEON), Standard, Batang Dua
     Color Temperature (kelvin, K) = 6500k (cool daylight / Putih
     Watt (w) : Ligth Output/lumen (lm)
     5w  = 235lm
     8w  = 430lm
    11w = 620lm
    14w = 810lm

Nah dari pengetahuan diatas kita bisa menghitung berapa watt yang kita butuhkan untuk mengganti lampu Neon dengan lampu LED. Contoh sederhananya adalah : Jika biasanya ruang kamar tidur kita menggunakan Lampu neon 14w maka untuk mengganti ke Lampu LED kita bisa gunakan Lampu LED 9watt atau 12.5watt. Hemat secara watt ?
Berikut beberapa fakta yang muncul oleh penggunaan lampu LED adalah :
·         Lampu LED 7 watt lebih terang dari pada lampu CFL 8 watt. Mungkin setara dengan CFL 10watt.
·         Lampu LED 10 watt lebih terang dari pada lampu CFL 12 watt. Mungkin setara dengan CFL 14 watt.
·         Lampu LED lebih adem dari pada lampu CFL.

Tabel Lampu LED dengan Lampu Neon ( Fluorescent)

Lalu, Berapa harga lampu LED ?
Nah ini dia, harga bohlam lampu LED Philips 9.5watt (Rp 85.000,-) itu sekitar 2.5 kali daribohlam Philips Neon 15w (Rp 37.000,-) Itu pun waktu diskon LED nya.
Memang sih lampu LED jauh lebih mahal dibanding lampu Neon, namun jika dilihat dari daya tahan dan kehematannya maka Lampu LED ini perlu digunakan. Penggunaan selama 3 tahun lampu LED bandingkan dengan yang hanya 1 tahun untuk bohlam neon dengan merek yang sama.  Artinya sama saja kita akan mengganti 3 buah lampu neon selama 1 kali ganti lampu LED. Sama saja tho bro?
Secara hitungan harga kita cukup beli 1 bohlam LED (Rp. 85.000,-) untuk 3 tahun dibanding pengeluaran 3 bohlam Neon (3 x 37.000 = Rp 117.000,-). Hemat Rp 32.000,- / lampu / 3 tahun.

sumber :

kaskus (link ter-embed pada article)